Cerpen Pengembara Yang Lapar
PENGEMBARA YANG LAPAR
Pada suatu hari, mereka tiba di kawasan hutan belantara. Di kawasan itu mereka tidak menemukan dusun atau kampung. Mereka berhenti dan berehat di bawah sebatang pohon tua yang besar. Bekalan makanan pula telah habis. Ketiga sahabat ini sudah sangat lapar.
“Kalau
ada nasi sekawah, aku akan habiskan seorang diri," tiba-tiba Kendi mengeluh. Dia
memegang perutnya yang lapar. Badannya disandarkan ke pohon tua yang besar
itu.
“Kalau lapar
seperti begini, ayam panggang sepuluh ekor pun sanggup aku habiskan,” kata
Buyung pula.
“Janganlah kalian
berdua berlaku serakah dan membual seperti itu. Aku pun kelaparan juga. Bagiku,
kalau ada nasi sepinggan sudah cukup,” Awang bersuara.
Kendi dan
Buyung tertawa mendengar kata -kata Awang.
“Dengan nasi
sepinggan, mana bisa kenyang? Perut kita sangatlah lapar!” ejek Kendi. Buyung
mengangguk tanda bersetuju dengan pendapat Kendi.
Perbualan
mereka didengar oleh pohon tua besar itu. Pohon itu bersimpati ketika
mendengar keluhan ketiga pengembara tersebut lalu menggugurkan tiga helai daun.
Bubb! Kendi,
Buyung dan Awang mendengar bunyi seperti benda terjatuh. Mereka segera mencari
benda tersebut dicelah-celah semak. Masing-masing menuju ke arah yang
berlainan.
“Wah,ada nasi
sekawah!” kata kendi heran dan dia menjerit karena ia kaget melihatnya. Dia
menghampiri nasi sekawah yang masih beruwap.
Tanpa berfikir panjang dia menyuap nasi itu dengan lahapnya.
“Ayam
panggang sepuluh ekor! Wah, sedapnya!” teriak Buyung dari arah timur. Tiba tiba
air liurnya menetes, dan selera makannya pun muncul. Dengan pasti dia mengambil
ayam yang paling besar lalu makan dengan lahap.
Melihatkan
Kendi dan Buyung telah mendapat makanan, Awang berjalan semakin dalam kearah
semak. Ketika Awang melihat daun kelembak, ada sepinggan nasi berlauk yang
terhidang. Awang tersenyum dan mengucapkan syukur karena mendapat rezeki. Dia
makan dengan tenang.
Selepas makan, Awang merasa kenyang. Dia berehat ditempat semula di bawah pohon tua besar sambil memerhatikan Kendi dan Buyung yang sedang makan.
“Urgh!” Kendi sendawa. Perutnya amat kenyang. Nasi di dalam kawah masih banyak. Dia tidak mampu menghabiskan nasi itu.
“Kenapa kamu tidak habiskan kami?” tiba -tiba nasi didalam kawah itu bertanya kepada Kendi.
“Aku sudah
kenyang,” jawab Kendi.
“Bukankah
kamu telah berjanji akan menghabiskan kami sekawah?” Tanya nasi itu lagi.
“Tapi perut
aku sudah kenyang,” jawab Kendi.
Tiba-tiba
nasi itu berkumpul dan mengejar Kendi. Kawah itu menyerkup kepala Kendi dan
nasi-nasi itu menggigit tubuh Kendi. Kendi menjerit meminta tolong.
Buyung juga kekenyangan. Dia cuma dapat menghabiskan seekor ayam saja. Sembilan ekor ayam lagi terbiar di tempat pemanggang. Kerena terlalu banyak makan, perutnya berasa mual. Melihat baki ayam-ayam panggang itu saja, ia meresa muak dan hendak muntah. Buyung segera pergi meninggalkan ayam-ayam itu ke dalam semak.
“Kenapa kamu
tidak menghabiskan kami?” tiba-tiba tanya ayam-ayam panggang itu.
“Aku sudah
kenyang,” kata Buyung. “Makan sekor pun perut aku sudah muak,” katanya lagi.
Tiba-tiba
muncul sembilan ekor ayam jantan dari celah-celah semak di kawasan itu. Mereka berlari
ke arah Buyung.
Ayam-ayam itu
mematuk dan menggeletek tubuh Buyung. Buyung melompat-lompat sambil meminta
tolong.
Awang
bagaikan bermimpi melihat teman temannya. Kendi terpekik dan terlolong. Buyung
pula melompat-lompat dan berguling-guling di atas tanah. Awang tidak dapat
berbuat apa-apa. Dia seperti terpukau melihat kejadian itu.
Akhirnya Kendi dan Buyung mati. Tinggallah Awang seorang diri. Diapun meneruskan perjalanannya
Sebelum berangkat, Awang mengambil pinggan nasi yang telah bersih. Sebutir nasi pun tidak berbaki di dalam pinggan itu.
“Pinggan ini
akan mengingatkan aku supaya jangan sombong dan tamak. Makan itu secukupnya
jangan berlebihan agar tidak mubazir” kata Awang lalu pergi meninggalkan
tempat itu
- Tema : Balasan atas Perilaku Buruk
- Tokoh dan Penokohan :
- Buyung (Antagonis) : Berperilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji,tidak bersyukur atas pemberian dari tuhan, suka mengeluh
- Kendi (Antagonis) : Berperilaku sombong, berkhayal tinggi, tamak, ingkar janji,tidak bersyukur pemberian dari tuhan, suka mengeluh.
- Awang (Protagonis) : Berperilaku baik, tidak sombong, menepati janji, mensyukuri pemberian dari tuhan, bersifat baik.
- Pohon tua (Tirtagonis) : Suka berbelas kasih pada semua makhluk, bersifat baik.
- Latar (Setting) :
- Tempat : Di hutan.
- Suasana : Kelaparan
- Alur (Plot) : Alur Maju
- Amanat :
Janganlah membuat janji yang tidak dapat kita tepati apalagi dengan percaya dirinya kita mengucapkan janji tersebut seolah-olah kita dapat menepatinya tetapi kenyataannya kita tidak dapat menepatinya.
UNSUR EKSTRINSIK
- Nilai Budaya : kita bisa mengetahui bahwa dari zaman dulu kita diharuskan dan diajarkan untuk memiliki perilaku yang baik dan bertanggung jawab atas apa yang kita ucapkan
- Nilai Sosial : Terlihat pada sikap Awang yang sedang menasehati teman - temannya agar tidak berperilaku serakah dan sombong . Berikut kutipannya : “Janganlah kalian berdua berlaku serakah dan membual seperti itu. Aku pun kelaparan juga. Bagiku, kalau ada nasi sepinggan sudah cukup,”
